Pdt Mosioi Buka Palang Bawaslu PB Secara Adat

Kantor Bawaslu Provinsi Papua Barat yang sebelumnya dipalang menggunakan bambu sebagai simbol adat dibuka secara adat pula.

Pembukaan dilakukan dengan pembunuhan seekor babi di halaman depan Sekretariat Bawaslu PB, Jl. Brawijaya No.3A, Manokwari, Senin (25/9).

“Makna dari pembunuhan babi adalah tanda perdamaian,” ujar Pdt. Moses Mosioi, S.Th, yang dipercayakan sebagai orang tua sekaligus tokoh agama dalam melaksanakan prosesi adat tersebut.

Menurut pendeta kelahiran Manokwari, 8 Maret 1958 itu, adat Papua dengan pembunuhan babi yang darahnya tertumpah berarti sudah selesainya masalah sebagai tanda penyucian dari hal-hal yang membuat pegawai merasa tidak enak hati menyusul pemilihan Bawaslu Provinsi Papua Barat beberapa waktu lalu.

“Dengan melakukan prosesi adat ini, maka semua pegawai boleh masuk melaksanakan tugas bersama-sama dengan kepala sekertariat Provinsi Papua Barat sebagaimana mestinya,” ucapnya.

Menurut Kepala Sekretariat Bawaslu PB, Dr. La Bayoni,S.IP, M.Si, rencana pelepasan pemalangan secara adat merupakan permintaan Bawaslu RI, setelah memberikan penjelasan dalam rapat di Bogor pada Sabtu pekan lalu.

“Setelah mengikuti rapat, saya memberikan penjelasan kepada pegawai, dan pegawai  bersedia untuk memutuskan karena saya sudah menyampaikan hal-hal yang disarankan oleh Ketua dan Sekjen Bawaslu RI, sehingga sudah siap dilepaskan,” bebernya.

Lanjut Bayoni, karena proses pelepasan harus dilaksanakan secara adat, maka dia meminta  Pendeta Moses Mosioi untuk membukanya, karena beliau mengetahui adat itu.

“Tadi saya sudah koordinasi dengan beliau dan beliau siap, sehingga pelepasan pemalangan ini akan diawali dengan melakukan pemotongan seekor babi, kemudian akan dilanjutkan dengan ritual seperti adat istiadat yang dijunjung dan berlaku di Papua Barat,” tandasnya.

Pantauan papuakini.co pelepasan bambu yang berlangsung sekira pukul 18.00 WIT yang ditandai dengan pembunuhan seekor babi itu dilanjutkan dengan doa dan pembukaan pintu kantor Bawaslu PB.(jjm)