Halimah Yacob, Presiden Melayu Muslim di Tengah Mayoritas China di Singapura

Halimah Yacob menjadi perempuan pertama di Singapura yang menjabat sebagai presiden. Halimah menjadi satu-satunya kandidat presiden yang lolos uji kelayakan oleh Departemen Pemilu Singapura sehingga Pemilu tak perlu lagi dilakukan.

Seperti dikutip dari Channel News Asia, Departemen Pemilu Singapura hanya mengeluarkan satu sertifikat kelayakan. Itu artinya, dua kandidat presiden lainnya, Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan gagal lolos.

“Saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan itu tidak berubah, apakah ada pemilihan atau tidak ada pemilihan,” kata Halimah yang berusia 63 tahun itu.

Halimah rencananya akan dilantik pada Rabu (13/9) besok untuk menjadi Presiden Singapura untuk masa jabatan 6 tahun ke depan.

Selain Presiden, Singapura juga memiliki seorang Perdana Menteri (PM) yang kini dijabat Lee Hsien Loong.

Pilpres Singapura tahun ini berbeda karena merupakan pilpres yang hanya diperuntukkan bagi komunitas Melayu, sesuai dengan aturan Konstitusi Singapura.

Kenapa Pilpres Singapura hanya untuk komunitas Melayu?

Inilah hebat dan uniknya konstitusi Singapura. Menurut tagarnews Sebuah pemilihan presiden bisa diperuntukkan khusus bagi salah satu komunitas di Singapura jika tidak ada seorang pun dari komunitas tersebut yang menjabat Presiden dalam lima masa periode terakhir.

Hingga kini, sudah 7 figur yang pernah menjabat sebagai Presiden Singapura. Mereka adalah Yusof Ishak (1965-1970), Benjamin Sheares (1971-1981), C. V. Devan Nair (1981-1985), Wee Kim Wee (1985-1993), Ong Teng Cheong (1993-1999), Sellapan Ramanathan (1999-2011), dan Tony Tan Keng Yam (2011-2017).

Populasi di Singapura terdiri atas 74 persen komunitas China, 13 persen komunitas Melayu, 9 persen komunitas India dan 3,2 persen komunitas lainnya.

Jadi meski populasi Melayu di Singapura hanya 13 persen, namun konstitusi Singapura mengamanatkan bahwa salah seorang dari komunitas yang ada tersebut harus menjadi presiden minimal sekali dalam 5 periode.

“Prosesnya mungkin pilpres khusus, tapi Presiden untuk semua orang, untuk semua komunitas tidak peduli ras dan agama,” ujar Halimah seperti dilansir Channel News Asia.

“Semangat dan komitmen saya untuk melayani rakyat Singapura tetap sama. Saya tetap berkomitmen penuh untuk melayani Singapura,” lanjutnya.(***)