Setnov: Saya Dulu Nyuci dan Nyapu

Cara Ketua DPR RI Bakar Mahasiswa STIH

Setya Novanto saat akan meninggalkan STIH Manokwari.

KETUA DPR RI Drs Setya Novanto Ak MM punya cara ampuh untuk membakar semangat juang mahasiswa STIH Manokwari: kisah singkat hidupnya.

Di hadapan ratusan mahasiswa, Setnov, sapaan akrabnya, menceritakan bagaimana susahnya dia saat masih jadi mahasiswa. Pria kelahiran Bandung, 12 November 1954, dia multitasking untuk bisa membantu membiayai kuliahnya.

“Saya mahasiswa susah sekali. Harus ikut orang. Harus jadi pembantu. Jadi supir. Jam 4 pagi jual beli beras di Surabaya. Saya ngepel nyapu di rumah supaya kost tak bayar,” tutur legislator DPR RI sejak 1999-2019 tanpa putus ini dari dapil Nusa Tenggara Timur Dua itu.

Dari situ dia bersyukur mulai bisa mengumpulkan uang. Itu tak membuatnya berhenti. Dia lalu bekerja jadi tukang cuci mobil.

Kinerja dan etos kerjanya ternyata membuatnya jadi perhatian pemilik usaha cuci mobil itu. Dia lalu dipanggil si bos.

“Saya dikira orang Tionghoa. Bos nanya kamu Tionghoa dari mana? Bapak kamu jenderal ya? Saya jawab bukan, saya dari keluarga biasa,” tuturnya.

Setnov menyatakan saat dipanggil sang bos, dia mengira akan dipecat. “Ternyata surat yang diberikan pada saya adalah surat pengangkatan jadi kepala penjualan mobil Suzuki di Indonesia Timur,”kenangnya.

Saat kuliah dia juga sempat jadi penjual textbook photocopy-an. Peran itu berawal dari mahalnya buku-buku kuliah. Buku-buku itu didatangkan dari Singapura.

“Harganya waktu itu Rp5000. Itu mahal sekali. Saya minta tolong teman dari Singapura untuk mengirimkan dari sana. Buku itu lalu photocopy. Biayanya sekira Rp200. Hasil photocopy-an itu lalu saya tawarkan ke teman-teman kuliah dengan harga Rp500. Lumayan,” ungkapnya, disambut tepuk tangan meriah para mahasiswa.

Dari pengalaman tersebut, dia mengatakan pada para mahasiswa untuk jangan berkecil hati. Segala hal positif bisa dilakukan untuk membantu kuliah, agar bisa jadi putra putri Tanah Papua yang bisa membesarkan daerah ini.(***)