Dari Besi Tua ke Sarjana IPDN

Hermanus Munuay SSTP Kembali Untuk Wondama

Hermanus Munuay, SSTP

Penulis : Hendrik Akbar

“Niat saya sangat besar untuk membangun Kabupaten Teluk Wondama,” Itulah ungkapan Hermanus Munuay, Sarjana Sains Terapan Pemerintahan (SSTP).
Meskipun menyelesaikan pendidikan SD, SMP dan SMA di Manokwari, namun dedikasinya kini siap dia berikan kepada pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama.
Tahun 2012 lalu, dia menjadi salah satu dari tiga orang yang dikirim oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama untuk menempuh pendidikan di IPDN Bandung.
Singkat cerita, Oktober 2012, ayahnya yang kala itu merupakan pegawai honorer Pemkab Wondama, Soleman Munuay, menginformasikan adanya pembukaan tes untuk sekolah IPDN. “Saya langsung mengurus berkas-berkas dan berangkat ke Wondama,” tururnya.

Setelah mendaftar, dia bersama 47 orang lainnya kembali ke Manokwari dan melakukan seleksi. Kala itu, seleksi dilakukan di Fasarkan TNI AL Manokwari.
“Saya fokus dengan tes yang dilaksanakan saat itu. Saya berbesar hati untuk lulus tes, agar bisa menempuh pendidikan tersebut. Demi orang tua dan demi Wondama,” ujarnya.
Pengumuman tes keluar satu bulan setelah pelaksanaan tes berlangsung. “Saya tidak menyangka, hanya 3 orang, termasuk saya, saya yang lolos tes dari 47 peserta saat itu,” ungkapnya.
Setelah dinyatakan lolos, dia dan dua peserta lainnya lalu berangkat ke Bandung. “Saat itu tiket ditanggung pemerintah. Hanya 1 juta yang saya bawa sebagai pegangan selama di sana,” ujar pria lulusan SMA Santo Paulus, Manokwari itu.
Anak kedua dari enam bersaudara ini, mengaku hanya dua kali pulang ke Manokwari selama menempuh pendidikan. Finasial yang terbatas membuat dia harus tabah menjalani pendidikan dengan segala keterbatasan keuangan. Untungnya, pendidikan yang dia tempuh itu ditanggung oleh pemerintah.
Dia menyelesaikan pendidikan tanpa hambatan. Oktober 2016 dia lulus dan menyandang gelar S.STP. Itu memang kebanggaan besar orang tua. Bagaimana tidak, dari keluarga biasa, rumah yang berdinding papan tepat di pinggir pantai kompleks Borarsi Manokwari, Papua Barat, namun kerja keras orang tua dan bantuan pemerintah membuatnya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Jika mengenang kesehariannya dulu, pria muda yang saat masih sekolah akrab di sapa Herikoyo ini menjalani masa kecil sama seperti anak-anak pada umumnya. Bahkan, cerita menarik kala itu, saat dia bersama teman-temannya selepas pulang sekolah, sering mengumpulkan kaleng alumunium untuk dijual, memotong besi-besi kapal bekas penjajahan di belakang perairan laut Anggrem untuk ditimbang ke pembeli besi tua dan aktifitas lainnya. Itu hal-hal yang tidak bisa dilupakan olehnya.
Pria kelahiran 15 Maret 1992 ini besar di lingkungan yang sangat keras.
Saat itu, kompleks Borarsi merupakan salah satu kompleks yang disebut jalur merah. Di situ terdapat segala jenis godaan mulai dari minuman, pencurian, perjudian hal negatif lainnya. Sekarang kompleks itu sudah sangat membauk.
Didikan orang tua bisa menyelamatkannya dari lingkungan yang kala itu kurang menunjang. Ibunya seorang pegawai di Hotel Billy Jaya, Manokwari, sedangkan ayahnya staf honorer Pemkab Wondama.
Kini, dia terlihat gagah, dengan sepatu hitam, celana panjang dan papan nama di bajunya yang bertuliskan nama dan titelnya. Dia kini bekerja sebagai pegawai bantuan pusat yang ditempatkan di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung di Kabupaten Teluk Wondama.
“SK masih dari pemerintah pusat, namun diperintahkan untuk bertugas di Wondama. Sudah 4 bulan saya disini,” ujarnya.
Sebelum ke Wondama, dia mejalani magang di beberapa tempat. Magang pertama dia ditempatkan di Jogjakarta, lalu dipindahkan ke Kabupaten Bantul, pindah lagi ke Kabupaten Rokan Hulu, dan Kota Dumai.
“SK saya masih dari pusat. Jadi saya tunggu komando dari pusat. Di mana dikirim, di situ saya bertugas. Tapi saya cinta kabupaten ini. Harapan saya sangat besar untuk terus berdedikasi pada Wondama,” tandasnya. (***)

  • Edo

    Luar biasa.
    Tuhan berkati selalu
    Semoga bisa jadi pelayan masyarakat yg baik khususnya di Kab. Wondama