Astaga, SD YPK Yariari Libur Enam Bulan

SD YPK Yomakan dan SD YPK Isenebui 4 Bulan

RUMBERPON — Tak percaya tapi nyata. Itu fakta yang diterima dan disaksikan Wakil Bupati Teluk Wondama, Drs. Paulus Indubri, saat mengunjungi Kampung Yariari, Distrik (Kecamatan) Rumberpon, Provinsi Papua Barat.

Ada tiga sekolah dasar di sana yang berbulan-bulan lumpuh total, karena sama sekali tidak ada kegiatan belajar mengajar. Ketiganya adalah SD Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Kampung Yariari, SD YPK Yomakan dan SD YPK Isenebuai.

“SD YPK yang di kampung kami ini sudah 6 bulan tidak berjalan. Anak-anak tidak ada yang sekolah. Kepala sekolah meninggal,” ujar warga Yariari, Lukas Kao, dalam pertemuan Wakil Bupati dengan warga Rumberpon terkait pembukaan musyawarah jemaat bakal klasis Rumberpon, Selasa, (24/1).

Menurutnya, warga sudah menyurat ke Dinas Pendidikan Teluk Wondama soal itu, namun sampai saat ini belum ada balasan.

Kondisi itu juga terjadi di SD YPK Yomakan dan SD YPK Isenebuai.

“Bukan hanya Yariari. Proses belajar mengajar di SD Yomakan dan Isenebui juga tidak jalan baik. Kadang anak- anak sekolah ini libur tiga sampai empat bulan. Saat ini saja anak- anak sekolah masih libur,” tambah Seprianus Sawasemariai, warga Isenebui.

Menanggapi ini, dengan mata berkaca, Indubri yang bersama Bupati Bernadus A Imburi baru menjalankan pemerintahan Teluk Wondama selama sekira 10 bulan, menyatakan akan memerintahkan dinas terkait untuk menempatkan guru di sekolah-sekolah tersebut.

“Bagaimana pun caranya, harus ada guru. Pendidikan sangat sangat penting. Saya saksikan dengan mata kepala sendiri sekolah ini lumpuh total,” tegas Indubri.

“Setelah saya pulang dari sini, besok (Rabu 25/1) saya akan panggil kepala dinas pendidikan. Apapun dan bagaimanapun caranya, sekolah ini harus dihidupkan kembali proses belajar mengajar. Generasi penerus tidak bisa dibiarkan seperti ini,” janji Indubri.

Indubri lalu memerintahkan kepala kampung untuk mendata semua lulusan SMA di kampung Yariari. Mereka akan diberdayakan mengabdi di sekolah-sekolah tersebut.

Indubri yang putra asli Wondama ini mengaku geram melihat kondisi ini. “Saya jujur. Indeks pembangunan manusia di Kabupaten Teluk Wondama selama ini tidak pernah naik. Selalu berada di nomor urut paling belakang. Jauh dari kabupaten-kabupaten yang baru dimekarkan,” ungkap Indubri.

“Tenaga guru harus tersedia. Kualitasnya perlu dibangun. Kalau guru ada tapi tidak tahu mengajar, sama saja. Begitu sebaliknya. Guru berkualitas tapi tidak ada di tempat tugas, sama saja. Guru yang ditempatkan di tempat tugas harus ada dan berkualitas,” ungkap Indubri.

Pantauan papuakini.co menunjukkan tak ada bangku dan meja belajar di sekolah itu. Yang ada hanya sebuah vas bunga di atas sebuah lemari, lambang Garuda Pancasila, dan foto presiden dan wakil presiden.

Pulau Rumberpon jaraknya sekira tiga jam dengan speedboat milik Pemerintah Kabupaten Wondama dari Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama.(asa)

  • Afen

    seharusnya pihak Yayasan Pendidikan Kristen cepat tanggap mengenai persoalan ini..