Pedasnya Harga Cabai dan Pemanfaatan Lahan Pekarangan

 

Penulis:

Oeng Anwarudin
Dosen STPP Manokwari
Mahasiswa S3 Pascasarjana IPB

 

Pedasnya harga cabai awal tahun 2017 dan hebohnya migran Tiongkok menanam cabai di negeri kita akhir tahun lalu seperti memberi ucapan Selamat Tahun Baru bagi Indonesia.

Cabai, komoditas yang satu ini sedang naik daun, menjadi topik pembicaraan di berbagai media sosial.

Komoditas ini dibicarakan tidak hanya oleh ibu-ibu melainkan oleh banyak orang yang bisa jadi belum pernah tahu apa itu cabai, bahkan oleh mereka yang dalam kesehariannyapun tidak suka pedasnya cabai.

Cabai, ya cabai sang bintang awal tahun ini yang pedasnya sampai ke meja Pak Menteri Pertanian bahkan sampai ke istana Presiden.

Cabai adalah salah satu produk pertanian. Sebagai produk pertanian, cabai sangat rentan terhadap air dan cuaca. Seperti produk pertanian lainnya, cabai juga mudah busuk.

Oleh karena itu pada situasi musim hujan yang ekstrim sperti ini, pasokan naik turun dan harga bergejolak. Selain itu, sebagian lahan yang biasanya ditanami cabai pada musim kemarau, pada musim hujan beralih bercocok tanam padi. Akibatnya, pasokan cabai berkurang sehingga harga naik. Kondisi ini terjadi setiap tahun dan semestinya sudah bisa diprediksi sehingga bisa mencari solusi untuk mengantisipasi.

Permasalahan yang sering tidak diperhitungkan adalah bahwa kita memiliki lahan yang seolah-olah menjadi rebutan banyak komoditas. Ketika ingin mengejar target swasembada beras, sebagian besar lahan digunakan untuk menanam padi yang berakibat kebutuhan produk pertanian lainnya seperti cabai tidak terkejar, dan demikian juga sebaliknnya.

Lalu apa yang perlu dilakukan? Sepertinya harus mencari solusi yang dapat dijadikan alternatif yang salah satunya adalah memanfaatkan lahan pekarangan.

Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Di Indonesia, terutama di pedesaan setiap rumah tangga relatif masih memiliki pekarangan. Pekarangan adalah lahan terbuka yang terdapat di sekitar rumah tinggal. Tentunya, sayang bila tidak dimanfaatkan menjadi lahan produktif, seperti cabai sehingga terbebas dari beban pedasnya harga cabai.dan sayuran lain yang akan memberi banyak kebaikan.

Pertama, memenuhi kebutuhan dapur dan gizi keluarga.

Kedua, bila dirawat dengan baik akan memberikan lingkungan yang menarik nyaman dan sehat serta menyenangkan sehingga istilah rumahku surgaku benar-benar terwujud di rumah tinggal kita sendiri.

Ketiga, mendukung kualitas lingkungan seperti kebersihan udara, sehingga tercipta kesehatan dan keindahan yang mendukung ekosistem yang lebih baik.

Keempat, kegiatan memanfaatkan lahan berarti menyalurkan kreatifitas dan kesenangan yang secara fisik adalah aktivitas olah raga yang menyehatkan.

Bertanam cabai tidak selalu di lahan yang luas, di pekarangan yang sempit pun dapat dilakukan.

Pertama, bertanam secara konvensional yaitu bertanam cabai seperti biasa langsung di tanah. Lahan untuk bertanam cabai digemburkan terlebih dahulu. Tidak lupa dibuat guludan untuk mencegah air tergenang mengingat cabai pada umumnya tidak tahan air genangan.

Kedua, bertanam cabai pada polybag. Bertanam menggunakan polybag dapat lebih fleksibel karena mudah dipindah-pindah dan ditata sesuai keinginan.

Ketiga, tanam cabai dalam pot (tabelampot). Tanaman cabai dapat saja dijadikan sebagai tanaman hias, apalagi jenis cabai saat ini bermacam warna dan bentuk buahnya yang bila ditanam dalam pot akan memberi kesan indah.

Keempat vertikultur, cabai yang akan kita budidayakan ditanam didalam pot/polybag dengan sistem penanaman ke arah atas, bertingkat atau bersusun.

Cabai vertikultur

Sistem pertanian vertikultur ini sangat cocok diterapkan di kota-kota besar, bisa juga diterapkan di daerah-daerah rawan banjir. Karena, kebun mini ini dapat dipindah-pindahkan dengan mudah. Tetapi jika menggunakan rak, maka kita tak perlu repot-repot lagi untuk memindahkan polibag/pot saat banjir datang.

Sama halnya membudidayakan cabai di lahan yang luas, jenis bertani dengan sistem ini sama-sama membutuhkan sinar matahari, air dan unsur-unsur hara untuk pertumbuhannya.

Perbedaannya hanyalah terletak pada lahan yang digunakan. Dalam sistem konvensional, misalnya, satu meter persegi mungkin hanya bisa menanam lima pohon cabai saja. Tetapi dengan vertikultur, lahan seluas itu bisa ditanami sampai 15 pohon cabai.(***)