Tak Ada Hidup yang Lebih Baik, Jika Tidak Ada Perjuangan yang Baik

AKBP Drs. Frits Sokoy, Kapolres Teluk Wondama

WONDAMA — Tidak ada siswa polisi atau tentara yang benar di mata instruktur atau pembina. Siswa sudah menganggap rapi, namun dianggap belum oleh instruktur. Walhasil, push up, jungkir, merayap jadi hal biasa di dunia pendidikan sesungguhnya. Baginya, jadi siswa sama saja dengan bukan cuma siapa salah atau siap benar, tapi siap apa saja.

“Hal inilah yang melatih mental kita di mana pun kita ditempatkan.” Begitu kata AKBP Drs. Frits Sokoy, Kapolres Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.
Pria yang biasa dipanggil Frits itu lahir di Jayapura pada 14 Desember tahun 1968. Frits menempuh pendidikan dasar di SD YPK Flafow, Sentani, tahun 1973. Selesai pada tahun 1980, Frits melanjutkan pendidikan di SMP Katolik Sentani. Lulus tahun 1984, Frits melanjutkan sekolah di SMA Adven Sentani. Lulus SMA tahun 1987, Frits kuliah di Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura jurusan Ilmu Hukum. Dia lulus pendidikan S-1 pada 1992.

“Tak ada hidup yang lebih baik, jika tidak ada perjuangan yang baik pula. Berjuanglah untuk mendapatkan yang terbaik. Doa merupakan senjata dan tameng di segala situasi dan badai,” tegas Frits.

Lulus pendidikan S-1, Frits yang sejak SD sangat suka mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial itu masuk Sekolah Perwira Pertama Polri. Lulus tahun 1993, dia menyelesaikan pendidikan perwira lanjutan setahun kemudian.

Selama sekira sembilan bulan menjalani pendidikan perwira, Frits mengalami banyak suka. Lima bulan di Surabaya dan empat bulan di Sukabumi, dia mengalami homesick. Rindu orangtua dan kampung halaman. Untung Frits yang kala itu berusia 22 tahun bisa mengatasi homesick itu sampai pendidikan selesai.

Selama pendidikan, ada dua sahabat yang tak terlupakan. Pertama, almarhum Robert Sweni, yang terakhir menjabat sebagai Wakapolres Kabupaten Supiori, Provinsi Papua, Kedua adalah Frans Rohrohmana, tentara TNI Angkatan Darat.

Robert, kenangnya, selalau menyembunikan rotik kesukaannya dan Frans saat mereka dapat instruksi merayap. Roti kesukaan mereka adalah roti sisir yang biasanya diisi dalam baju mereka. “Roti itu kami makan sebelum merayap. Supaya kuat,” kenang Frits, lalu tersenyum.

Begitu lulus dari pendidian perwira, di usia 23 tahun, Frits ditugaskan di Direktorat Pendidikan Mabes Polda Jakarta. Setelah empat tahun di sana, dia dimutasi ke Sukabumi. Empat tahun di Sukabumi, dia kembali ke Papua karena ditugaskan sebagai Kepala Polisi Jalan Raya di Polda Papua. Setahun kemudian, 2004, dia dipromosi jadi Kasat Lantas Polres Jayapura.

Pada 2005 Frits jadi Kepala Seksi Laka Lalulintas Polda Papua. 2006-2008 dia menjabat Kabag Ops Polres Biak Numfor. Tahun 2008-2010 dia diproosi jadi Wakapolres Yahukimo. Dia kemudian jadi Kasat Pol PP Yahukimo pada 2010-2015. Di 2015 dia lalu jadi tenaga pendidik SPN Jayapura. Di tahun itu juga dia dipindahkan ke Polda Papua Barat, ditugaskan sebagai Kapolres Teluk Wondama hingga saat ini.

Dari pernikahan dengan istri tercinta, Esther Sokoy, Frits dikaruniai tiga anak. Mereka adalah Sterivian C Sokoy, Arlen Sokoy dan Glorya Sokoy. Ketiganya sekolah di Jayapura.(Solfi Rumkorem)