Puluhan Warga Kensi Kaimana Idap Benjolan

Hugo Asro (tengah) bersama rekannya masing-masing Aloysius Siep dan Fadrin Reasa
MANOKWARI — Sedikitnya 19 orang penduduk Kampung Kensi, Distrik Arguni Atas, Kabupaten Kaimana mengidap benjolan yang belum diketahui jenisnya.

“Tumor atau apa kita tak tahu, karena belum pernah diperiksa,” ujar Ketua Aliansi Mahasiswa Pemuda Papua, Hugo Asrouw, Kamis (22/12).

Dia lalu menyatakan ada dua warga yang menderita penyakit mirip kusta kering. “Kondisinya, kaki sudah bolong,” klaimnya, lalu menunjukkan foto sejumlah warga.

Dia juga menyatakan pelayanan kesehatan warga Kampung Kensi sangat memprihatinkan. Pasalnya, katanya, penyakit yang diderita belasan warga ini sudah terjadi belasan tahun. Bahkan, klaimnya, ada yang sudah 20 tahun. “Masyarakat juga ada yang sakit hernia. Penyakit yang dominan di kampung Kensi adalah ISPA,” tambahnya.

Hugo Asro (tengah) bersama rekannya masing-masing Aloysius Siep dan Fadrin Reasa

Terkait itu, Hugo menyoroti perhatian Pemerintah Kabupaten Kaimana, maupun Pemerintah Provinsi Papua Barat. “Belasan tahun dana Otsus digulirkan. Arahnya ke mana? Masih ada orang asli Papua yang sakit dan tidak tertangani. Kami tegaskan, Otsus itu gagal,” tuturnya.

Dia mengaku sudah berupaya mengonfirmasikan kondisi kesehatan masyarakat Kampung Kensi itu ke pemerintah dan DPRD setempat, tap ibelum menemukan hasil.

“Kami mau dinas kesehatan provinsi membentuk tim khusus. Lalu turun ke kampung memeriksa penyakit yang diderita warga itu,” ungkapnya.

Hugo juga menyoroti klinik di Kampung Kensi milik sebuah perusahaan kayu yang, menurutnya, menukar biaya kesehatan warga dengan hak ulayat.

“Pengakuan warga ada Pustu di kampung itu, tapi tidak ada petugasnya. Mereka terpaksa berobat ke klinik itu, ongkosnya dipotong lewat pembayaran hak ulayat,” semburnya.

Anggota AMPP, Alosius Siep menambahkan, masalah kesehatan di Kampung Kensi jadi perhatian AMPP. “Kami akan kawal ini. Tujuan kami ingin membantu masyarakat mendapatkan haknya. Tidak ada maksud lain,” pungkasnya.

Kadis Kesehatan PB, Otto Porrorongan belum berhasil dikonfirmasi.(***)