Ini Penjelasan BMKG Soal Kegempaan Papua Barat

Andri, Kepala Stasiun Geofisika Klas I Sorong.

Andri, Kepala Stasiun Geofisika Klas I Sorong.

MANOKWARI — Provinsi Papua Barat merupakan wilayah rawan gempa bumi dan tsunami karena ada empat lempeng, yang aktivitasnya mengakibatkan terjadinya zona-zona sesar/patahan aktif dan zona subduksi/tumbukan lempeng.

Kepala Stasiun Geofisika Klas I Sorong, Andri W. Bidang. Selasa (20/12) mengatakan, zona-zona itu merupakan sumber pemicu gempa bumi.

“Gempa bumi merupakan kejadian alam yang sepatutnya harus terjadi, karena pergerakan lempeng menghasilkan tekanan-tekanan antara lempeng atau biasa disebut stress,” katanya.

Lempeng yang merupakan lapisan batuan memiliki batas kemampuan untuk menampung tekanan-tekanan. Ketika lapisan batuan ini tidak mampu menahan tekakan/stress maka yang terjadi adalah regangan/strain.

“Kondisi regangan ini menimbulkan pelepasan energi melalui gelombang seismik,” ujarnya.

Andri mengungkapkan, kegempaan dengan kekuatan di bawah 5 skala ricther (SR) yang terjadi di Papua Barat yang terjadi belakangan ini adalah hal yang lebih baik.

“Karena energi yang terakumulasi di lapisan batuan dapat dilepaskan secara perlahan-lahan. Yang bahaya jika suatu daerah dinyatakan memiliki sumber jalur gempa bumi tapi belum terjadi gempa bumi,”paparnya.

Menurutnya, gempa bumi memiliki periode. Artinya, suatu gempa butuh periode waktu untuk mengumpulkan energi gempa untuk dilepaskan di wilayah yang berpotensi gempa bumi.

Dia mencontohkan gempa Aceh medio 2004 lalu. Dengan kekuatan 9,0 SR butuh waktu sekira 200 tahun. Andri berujar, di Papua maupun Papua Barat belum ada penelitian yang komprehensif mengenai kegempaan.

“Padahal data katalog gempa bumi tahun 2013-2014 yang dirilis BMKG, sudah ada 10 kali gempa bumi lokal yang menyebabkan tsunami.

Papua Barat merupakan wilayah kegempaan yang kompleks dan unik. Gempa bumi dapat bersumber dari darat maupun di dasar laut,” tuturnya.(***)