CIA Pastikan Rusia ‘Main’ di Pemilu AS

Putin vs Obama
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama dalam pertemuan tingkat tinggi G20 Summit di Hangzhou, China, 4-5 September 2016.
Putin vs Obama
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama dalam pertemuan tingkat tinggi G20 Summit di Hangzhou, China, 4-5 September 2016.  (Getty Images)

WASHINGTON DC — Badan intelejen Amerika Serikat, CIA, dengan ‘keyakinan tinggi’ menyimpulkan bahwa Moskow ‘main’ dalam Pemilu AS. CIA menyatakan aksi Moskow itu bertujuan untuk membantu Donald Trump menang. Demikian diberitakan The Associated Press, Minggu (11/12).

Penilaian CIA ini, kata serang pejabat tinggi AS yang minta namanya disembunyikan, sebagian didasarkan pada bukti bahwa para peretas (hacker) Rusia sama-sama meretas partai Republik dan Demokrat, tapi hanya membocorkan informasi yang merugikan Hillary Clinton.

Bantahan Trump atas laporan CIA itu menimbulkan pertanyaan bagaimana dia akan akan menangani informari dari badan-badan intelejen nanti saat dia jadi presiden. Sikap Trump itu juga membuat Republik dalam posisi tak nyaman antara presiden terpilih itu dengan komunitas intelejen.

Dalam sebuah pernyataan akhir pekan lalu, tim transisi Trump mengatakan bahwa pihak yang menuding Rusia itu adalah “pihak yang juga menyatakan bahwa Saddam Hussein punya senjata pemusnah massal.” Juru bicara tim transisi, Sean Spicer, mengatakan pada CNN “ada orang-orang dalam badan-banda (intelejen) ini yang tak senang dengan hasil Pemilu.”

Spicer juga menepis artikel New York Times bahwa Rusia menjebol jaringan komputer Republican National Committe.

Menanggapi ini, Senator (Demokrat) Chuck Schumer dari New York mengatakan akan mengusulkan penyelidikan kongres terhadap hal ini tahun depan. “Bahwa ada negara lain yang mencampuri Pemilu negara kita semestinya mengguncang kedua partai. Komunitas intelejen kita harus memasukkan semua informasi relevan terkait itu, agar Kongres bisa melakukan penyelidikan penuh.”

Hal senada dikatakan dua senator Republik, John McCain dari Arizona dan Lindsey Graham dari Carolina Selatan. Senantor Republik lainnya, John Cornyn dari Texas, berpendapat berbeda. Dalam cuitan di Twitter, dia mengatakan peretasaan Rusia sudah beredar sejak lama. Menurutnya, itu “hal serius, tapi bukan berita.”

Belum ada jawaban resmi dari Moskow. Tapi, Oleg Morozov, anggota komite hubungan luar negeri parlemen Rusia, menyatakan tudingan ‘campur tangan’ Rusia itu sebagai “kebodohan dan paranoia.” Menurut kantor berita RIA Novosti, Morozov menilai tudingan itu sebagai upaya agar pemerintahan AS ke depan tetap berpegang pada sikap Obama yang anti Rusia.

Presiden Barack Obama sudah memerintahkan selesainya penyelidikan penuh serangan siber yang terjadi selama musim kampanye Pemilu AS, sebelum masa jabatannya berakhir Januari 2017 nanti.(***)