“Saya Nakal, Tapi Saya Mau Sekolah. Semoga Ada Rejeki”

TETAP CERIA: Para anak laki-laki ini semuanya tidak sekolah. Yang perempuan sekolah. Mereka sebagian anak asuh Dra M Pesurnay Kaikatuy MM, koordinator Galeri Belapeska di bilangan Swapen Perkebunan.

NAMANYA Alfi Alfandi Makatita. Lahir di Ransiki 1 Februari 2001. Dia putus sekolah di tahun kedua dari SMP Pesantren Arfai.

Kenapa putus sekolah? “Saya nakal,” jawabnya saat ditanya Papua Kini, di sela pembukaan Galeri Belapeska, kawasan Swapen Perkebunan, Rabu (7/12).

Meski begitu dia mengatakan tetap ingin sekolah. “Saya tetap mau sekolah. Semoga ada rejeki,” ungkapnya sembari melihat ponsel batang yang dipegangnya.

Bilang susah uang, kenapa ada ponsel? “Ah tidak. Ini bukan handphone saya. Ini punya Wolemus,” jelasnya.

Wolemus Mandacan adalah rekannya. Dia juga putus sekolah saat di kelas Kelas III SD Mulyono.

Ayah Alfi berprofesi sebagai pemasang instalasi listrik, sedangkan ibu anak campurang Sangihe-Ambon ini ibu rumah tangga biasa.

Alfi mengaku juga terpengaruh teman-temannya. “Kalau sekolah terus saya kini kelas 1 SMA,” ungkapnya, lalu tertunduk. Ada rasa sesal terkesan dari pernyataannya itu.

Lain Alfi, lain pula Wolemus. Dia agak tertutup. Ketika ditanya kenapa putus sekolah, dia tertawa nakal. “Saya terlalu banyak main,” tuturnya. Dia tertutup saat ditanya lebih lanjut soal keluarganya.

Kemudian, ada kakak adik Frengky dan Denny Dowansiba. Frengky putus sekolah keas 2 SD, sedangkan adiknya kelas 1 SD. Sama seperti Wolemus, mereka juga tertutup saat ditanya alasan kenapa berhenti sekolah.

“Sudah banyak sekali sekolah yang saya daftarkan. Mereka tetatp banyak bolos. Saya juga bingung. Mereka jadi begin sejak ayah mereka meninggal,” jelas Yuna, ibu Frengky dan Denny.

Anak-anak itu merupakan sebagian dari sejumlah anak asuh Dra M Pesurnay Kaikatuy MM. Mereka terkumpul di pembukaan Galeri Belapeska milik mantan Wakil Bupati Teluk Wondama. Selain anak laki-laki ini, ada sejumlah anak perempuan juga yang tergabung di situ. Bedanya, para anak perempuan itu semuanya masih bersekolah.

Ny Kaikatuy mengumpulkan mereka lalu melatih mereka untuk membuat manik-manik dan berbagak kerajinan tangan sederhana Papua dan Papua Barat.(***)

 

Editor: Dixie