Papua Barat Deklarasi Damai

Kedamaian
JAGA PERDAMAIAN: Kapolda Papua Barat (PB), Brigjen Pol Royke Lumowa (ketiga kiri), Sekprov PB, Nataniel D Mandacan (kedua kiri), Ketua Dewan Provinsi (Deprov/DPRD PB) Pieters Kondjol (keempat kiri), Komandan Korem 171/PVT Brigjen TNI Purnawan Didi Andaru (berpakaian loreng peci hijau), dan perwakilan Lantamal X Jayapura, Letkol Suparman (pertama kiri), bersama para pemuka agama dan masyarakat dalam deklarasi damai di Lapangan Borarsi, Manokwari, Jumat (25/11) pagi tadi.
Kedamaian
JAGA PERDAMAIAN: Kapolda Papua Barat (PB), Brigjen Pol Royke Lumowa (ketiga kiri), Sekprov PB, Nataniel D Mandacan (kedua kiri), Ketua Dewan Provinsi (Deprov/DPRD PB) Pieters Kondjol (keempat kiri), Komandan Korem 171/PVT Brigjen TNI Purnawan Didi Andaru (berpakaian loreng peci hijau), dan perwakilan Lantamal X Jayapura, Letkol Suparman (pertama kiri), bersama para pemuka agama dan masyarakat dalam deklarasi damai di Lapangan Borarsi, Manokwari, Jumat (25/11) pagi tadi.

MANOKWARI — Gejolak masyarakat di berbagai penjuru daerah untuk menggelar unjuk rasa 25 November terkait penetapan tersangka Gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, atas kasus dugaan penistaan agama, dicekal di Manokwari.
Buktinya, Jumat (25/11), sekira pukul 08.00 WIT, TNI/Polri, tokoh-tokoh agama dan masyarakat menggelar upacara upacara deklarasi damai di Lapangan Borarsi.
Selain upacara, juga dilakukan pembacaan deklarasi damai, penandatanganan deklarasi damai oleh Forkopimda, serta pembacaan Maklumat Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol Royke Lumowa.
Sekprov Papua Barat, Nataniel D Mandacan, mengatakan, upacara dan deklarasi damai merupakan kesepakatan bersama untuk mengantisipasi gangguan Kamtibmas di Manokwari akibat situasi nasional yang terjadi saat ini.
“Saya harap deklarasi ini bisa di dukung seluruh warga. Damai itu indah. Kalau tidak damai, tidak ada pembangunan, karena kehidupan ini penuh dengan ketakutan,” ujarnya.
“Saya harap semua jaga Kamtibmas dan tolaransi beragama yang masih terjaga di Papua Barat ini. Kita harus mampu meredam dan menjaga diri untuk tidak terpancing isu provokasi. Kita bisa hidup aman kalau di pusat (Jakarta) aman, tapi kita tidak bisa hidup aman jika sebaliknya,” tegasnya.(***)