4 Jaringan Narkoba Operasi di Manokwari

BNN
Kepala BNN Papua Barat, saat masih jadi Kepala BNN Papua, Kombes Pol Jackson Lapalonga bersama Komandan Lantamal X Jayapura, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Heru Kusmanto, S.E. M.M
BNN
Kepala BNN Papua Barat, saat masih jadi Kepala BNN Papua, Kombes Pol Jackson Lapalonga bersama Komandan Lantamal X Jayapura, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Heru Kusmanto, S.E. M.M

MANOKWARI — AK diduga kuat merupakan bagian dari jaringan narkoba yang beroperasi di Papua Barat, khususnya Manokwari. Ada info bahwa ada sekira 3-4 jaringan itu. Mereka sedang diburu Badan Narkotika Nasional (BNN) Papua Barat.
“AK ini cuma kurir. Kami kejar gembongnya,” ujar Kepala BNN Papua Barat, Kombes Pol Jackson Lapalonga, tadi siang.
Dia juga mengatakan kuat dugaan ini bukan aksi pertama AK yang tertangkap di kawasan Bandara Rendani, Manokwari itu. “Sepertinya dia sudah pernah lolos. Pengirian pertama berhasil, tapi yang kedua kami gagalkan,” ungkap mantan Kepala BNN Papua ini.
AK ditangkap membawa 103,6 gram shabu shabu dan 101 butir pil ekstasi. Barang haram ini nilai pasarnya diperkirakan ratusan juta rupiah. Satu butir ekstasi di pasaran di berbagai daerah Indonesia dihargai Rp500 ribu tergantung kualitas, sedangkan shabu-shabu Rp2,5 juta per gram. Juga tergantung kualitas.
Belum diketahui pasti kualitas ekstasi dan shabu-shabu yang diboyong AK. Dengan asumsi yang dibawanya kelas wahid, maka barang haram bawaannya itu harganya bisa mencapai Rp 300 juta. Rp50 juta untuk ekstasi, dan Rp250 juta shabu-shabu.
Harga barang ini melonjak di pasaran seiring ketegasan pemerintahan Jokowi-JK memerangi barang haram ini. Harga narkoba kini, menurut Project Manajer Persatuan Korban Napza Indonesia (PKNI), Suhendro Sugiarto, seperti dilansir media nasional beberapa waktu lalu, melonjak hingga 600 persen.(***)