Ahok Ditolak Jadi Gubernur Papua

Presiden Jokowi saat berkunjung ke Merauke baru-baru ini, didampingi Lenis Kogoya
Presiden Jokowi saat berkunjung ke Merauke baru-baru ini, didampingi Lenis Kogoya

JAKARTA — Kisruh kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama tidak hanya ramai di ibukota. Kawasan Indonesia paling Timur juga ramai menyuarakan aksinya terhadap kasus yang menimpa mantan Bupati Belitung Timur ini.
Sempat viral di media sosial, segelintir masayarakat Papua menyatakan apabila Ahok dijegal di DKI Jakarta, masyarakat Papua membuka tangannya untuk menerima Ahok sebagai pemimpin.
Menanggapi hal tersebut, salah satu putra Papua yang juga menjadi staf Khusus Kepresidenan, Lenis Kogoya dengan tegas mengatakan penolakannya atas aksi tersebut.
“Ada yang bilang kalau Ahok tidak jadi Gubernur, Ahok jadi presiden Papua saja, siapa yang ajari kalian seperti itu? Tolong kasih tahu, kaka tidak setuju,” tegasnya dalam acara Sarasehan Kebangsaan Papua Anak Bungsu Ibu Negeri di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (19/11).
Lenis mengatakan, pihaknya maupun masayarakat Papua lainnya menyerahkan semua proses hukum yang tengah berjalan kepada pihak yang berwenang. “Biarkan hukum yang jalan. Tantangan dan rintangan itu biasa,” tegasnya.
Sebelumnya, tersebar foto lewat twitter seorang nitizen bernama meilani dengan ?@MeilaniAryo yang menyatakan Ahok jadi Presiden Papua. Dalam akun tersebut juga muncul dua foto aksi protes warga Papua lainnya.
Foto pertama berisi aksi unjuk rasa dengan tulisan sebagai berikut: Demo ulang Ahok, sama dengan Usir Papua dari NKRI. Sementara foto berikutnya berisi tulisan berikut: Salam Damai Papua. Bubarkan FPI, Ormas Radikal.
Sementara itu, pendiri Papua Centre, Elang P. Oasis Rubra mengatakan tanah Papua tidak bisa lepas dari sejarah Indonesia. Tanpa adanya Papua sama saja dengan tidak adanya Indonesia.
“Apabila Bung Karno bilang Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, perlu saya tambahkan, Jasopa yakni jangan sekali-kali obral Papua,” kata Elang dalam acara itu.
“Banyak yang tidak tahu bendera Indonesia itu seperti apa. Jadi, kalau ada yang tiba-tiba menunjukkan bendera selain merah-putih mereka terima saja. Karena mereka tidak tahu,” tuturnya.
Oleh karena itu, dirinya melalui Papua Centre akan terus berupaya untuk peningkatan kualias masyarakat di tanah ujung Timur Indonesia itu. “Kalau bisa kepala-kepala suku dan pemimpin daerah sana (Papua) harus bergelar S2 atau S3 agar tidak mudah dibodohi,” tegasnya.(*)

Sumber: http://ekbis.rmol.co/read/2016/11/20/269148/Wakaf-Berpotensi-Besar-Wujudkan-Kemakmuran-Umat-